Berkat ajaran Al-Qur'an yang disampaikan Rasulullah SAW, maka keadaan umat yang pada mulanya dihinggapi penyakit ruhani yang sudah sekarat itu, dalam masa beberapa tahun saja telah berbalik menjadi umat pembina negara yang berdasarkan ketuhanan Yang Maha Esa, umat yang berjiwa pahlawan dan pelopor dalam segala macam pembangunan yang mengagumkan para ahli sejarah dunia sampai sekng ini.
Umat yang pada mulanya terpecah-pecah menjadi 360 kabilah/partai/golongan yang selalu bercakaran, bermusuhan, daa n saling berebutan pengaruh dan kedudukan, akhirnya menjelma menjadi umat yang satu, umat yang bersaudara yang mengarahkan tujuannya diatas kepentingan bersama demi kesejahteraan hidup bersama tanpa memandang kulit dan bulu, antara pria dan wanita, kesemuanya didasarkan atas ketaqwaan kepada Allah semata, untuk mencapai kebahagiaan hidup bersama baik di dunia maupun di akhirat.
Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT :
وَٱعْتَصِمُوا۟ بِحَبْلِ ٱللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا۟ ۚ وَٱذْكُرُوا۟ نِعْمَتَ ٱللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ كُنتُمْ أَعْدَآءً فَأَلَّفَ بَيْنَ قُلُوبِكُمْ فَأَصْبَحْتُم بِنِعْمَتِهِۦٓ إِخْوَٰنًا
"Hendaklah kamu berpegang kepada tuntunan Allah keseluruhannya dan janganlah kamu menjadi umat/bangsa yang terpecah belah, dan hendaklah kamu menyadari nikmat Allah yang dikaruniakan atasmu pada waktu kamu saling bermusuhan, lalu Allah jadikan kamu umat yang bersatu hati, maka dengan nikmat Allah tadi terciptalah persaudaraan diantaramu." (QS. Ali Imron (3) : 103).
Berdasarkan firman Allah tersebut, jelaslah bahwa persatuan lahir batin membawa kesejahteraan hidup bangsa di dalam negara. Dengan persatuan lahir batin tak mungkin timbul sengketa, permusuhan, dengki, iri hati, loba, tamak, berebut kedudukan, dan saling menjatuhkan sebagaimana yang dialami masyarakat Arab jahiliyah dahulu.
Setelah mereka menerima ajaran-ajaran Allah, berupa Al-Qur'an yang diinjeksikan kepada mereka oleh Rasulullah SAW, mereka menjadi umat yang satu hati, satu cita-cita dan satu tujuan untuk mencapai kesejahteraan hidup bersama, mereka bukan lagi umat jahiliyyah, melainkan telah menjelma menjadi umat yang bahagia.
Jadi yang dinamakan negara sejahtera, bukan yang bergantung atas kekayaan bumi dan alamnya semata, melainkan harus dititik beratkan atas budi pekerti rakyatnya. Walau suatu negara menurut pandanga lahir telah mencapai puncak kemajuan teknologi, namun belum dapat dinamakan negara sejahtera.
Ada beberapa negara yang kaya raya, yang cukup syarat-syaratnya untuk memenuhi kebutuhan rakyatnya bahkan kekayaan berhasil berlimpah ruah. Akan tetapi, apakah negara tersebut sudah dikatakan negara sejahtera, meski negara tersebut sudah dikatakan kaya raya dan terdapat beberapa raja uang, penguasa bermodal, pabrik yang besar, gedung bertingkat menjulang ke langit, bilamana disampingnya masih terdapat beratus ribu bahkan beratus juta penderita, dan gangguan-gangguan dibidang keamanan yang senantiasa mengganggu ketentraman batin penduduknya.
Maka dari itu, suatu negara belum dapat dinamakan sejahtera bilamana dalam negar selua tadi tidak terdapat ketertiban (rust on orde and welvarend), terlebih lagi jika dalam negara tersebut senantiasa timbul permusuhan, penindasan, perampasan dan sebagainya. Oleh karena itu, ketertiban batin dan ketertiban lahir harus dimiliki setiap orang.
Ketertiban lahir dan batin akan banyak berhasil dengan pendidikan puasa. Orang yang tidak melakukan pelanggaran karena takut pada petugas keamanan, maka orang tersebut tidak memiliki ketenangan lahir batinnya.
Sedangkan orang yang memiliki ketertiban lahir batin, baik ada petugas keamanan maupun tidak ada, ada inspeksi maupun tidak ada, ada kontrol maupun tidak, ia akan tetap berlaku jujur disebabkan ketertiban laku batinnya diperoleh dengan puasa lahiriyah dan battiniyah (mutmainnah, religius instinct) yaitu keinginan orang untuk berbuat baik yang ditimbulkan oleh jiwa yang ikhlas, jiwa ketuhanan.
Dari jiwa ketuhanan itu, akan memunculkan sifat-sifat terpuji, perikemanusiaan, kepribadian dan kebajikan, rasa cinta kepada sesama, keadilan, kesusilaan, dan rasa keindahan.
Sifat-sifat yang demikian adalah menjadi alat pendorong untuk mengatasi setiap negara sebagaimana telah di alami masyarakat Arab dibawah pimpinan Rasulullah SAW, dengan bimbingan Al-Qur'an guna menjadi teladan bagi seluruh umat. Wallahu a'lam.
Menghafal itu susah? Menghafal itu memerlukan waktu yang lama? Menghafal itu melelahkan? Itulah kata-kata yang sering mendesir diarea lubang telinga saya. Benarkah semua yang dikatakan kebanyakan orang-orang? Fakta atau opinikah? Sejenak, mari kita renungkan bersama mengenai kisah-kisah para penghafal Al-Qur’an yang luar biasa, kisah-kisah yang dapat menginspirasi kita semua sebagai Hamba & MakhluqNya yang lemah tanpa ada kekuatan dariNya. Dimulai dari kisah seorang pemuda buta yang gigih dan memiliki keyakinan serta tekad yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an, setiap hari ia dan ayah tercintanya datang kepada gurunya untuk setor meski hanya 1 ayat dengan jarak perjalanan yang lumayan jauh, namun semangat pemuda tersebut tak luntur hanya karena keterbatasan penglihatan dan jarak jauh yang ditempuhnya. Dan Anda tahu pemuda tersebut bisa menghatamkan Al-Qur’an. Ada lagi seorang wanita yang berjuang dalam meraih cita-citanya menghatamkan Al-Qur’an dalam sebuah kampus di daerah kudus. ...
Comments
Post a Comment