Skip to main content

Muhasabah 20th Milad






Dewasa, bukanlah bertambahnya usia, bukan pula indahnya wajah yang jelita, bukan pula mapannya profesi yang ada ataupun indahnya kata yang tercipta. Melainkan bagaimana sang insan tersebut mampu menerjemahkan sebuah kedewasaan melalui indahnya hati & pemikiran yg dipoles dengan cantiknya perangai yang tercipta, teduhnya kata yang terucap & eloknya warna yang dicipta tuk menghias manusia dalam bingkai kemanfaatan serta kokohnya iman yang menancap dibalik dinding-dinding kalbu. 

Yah, dewasa tak bisa diukur oleh apa yang nampak indera, namun bisa dirasa oleh tulusnya sukma. Dewasa tak bisa diukur oleh harta yang melimpah ruah, namun tentang bagaimana kita mengaplikasikan kekayaan yang melimpah menjadi kemanfaatan yang menyamudera. Dewasa tak bisa dinalar oleh logika melainkan diukur oleh ketulusan hati dalam bertindak. Sebab dewasa tak bisa melalui pencitraan, namun akan dirasa oleh hati yang jernih. Karena dewasa akan menjadikan kita menuju Hamba yang lebih baik & lebih sholih dari biasanya.
Jabatan, pangkat, & kekayaan terkadang bukan menjadikan kita menjadi lebih baik & dewasa, namun justru akan melalaikan fitrah kita sebagai seorang Hamba-Nya, hingga tanpa sadar kita telah melampaui dalam bertindak. Rupa yang menawan terkadang akan melalaikan hakikat kita sebagai hamba menjadi insan yang sombong & takabbur. Untuk itulah menjadi seorang yang dewasa diperlukan ilmu & adab. Agar dengan 2 hal tersebut manusia dapat bertindak sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah, para sahabat, Tabi'in, Tabi'in tabi'it & ulama'2 terdahulu yang memiliki ilmu yang luas & adab yang hebat dalam menghadapi makhluq Allah. Disitulah kita nantinya akan mengerti apa hakikat dari seorang hamba & bagaimana agar kita menjadi hamba terbaik-Nya.

Sugihwaras, 29 Juli 2018


#Muhasabah diusia yang bertambah, dan berkurang masa pengabdian di Dunia
#milad20th
#LebihbaikProduktifInspiratif
#ManfaatUntukSesama


Comments

Popular posts from this blog

MENGHAFAL AL-QUR’AN SEMUDAH TERSENYUM

Menghafal itu susah? Menghafal itu memerlukan waktu yang lama? Menghafal itu melelahkan? Itulah kata-kata yang sering mendesir diarea lubang telinga saya. Benarkah semua yang dikatakan kebanyakan orang-orang? Fakta atau opinikah? Sejenak, mari kita renungkan bersama mengenai kisah-kisah para penghafal Al-Qur’an yang luar biasa, kisah-kisah yang dapat menginspirasi kita semua sebagai Hamba & MakhluqNya yang lemah tanpa ada kekuatan dariNya. Dimulai dari kisah seorang pemuda buta yang gigih dan memiliki keyakinan serta tekad yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an, setiap hari ia dan ayah tercintanya datang kepada gurunya untuk setor meski hanya 1 ayat dengan jarak perjalanan yang lumayan jauh, namun semangat pemuda tersebut tak luntur hanya karena keterbatasan penglihatan dan jarak jauh yang ditempuhnya. Dan Anda tahu pemuda tersebut bisa menghatamkan Al-Qur’an. Ada lagi seorang wanita yang berjuang dalam meraih cita-citanya menghatamkan Al-Qur’an dalam sebuah kampus di daerah kudus. ...

KISAH PENJUAL TAHU

        Ada seorang penjual tahu. Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya.   Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah. Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dagangannya laris.   Begitulah setiap hari, sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis.            Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya utk naik angkot langganannya, entah kenapa tiba2 ia terpeleset kecemplung sawah.   Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung!         Setelah kejadian tersebut, ia mengeluh kepada Tuhan, bahkan "menyalahkan" Tuhan, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia selalu berdoa setiap pagi.   Akhirnya ia  segera kembali kerumah dan  tidak jadi berdagang.   ...

Munajat

  Diantara sejuta insan beriman Bukankah aku manusia yang cela? Saat imam tersungkur dalam manisnya iman Hempaskan rindu nan dahsyat kepada Sang Pencipta Diantara sejuta Hamba yang mulia Bukankah aku makhluq terhina? Saat Hakim sibuk terbarkan petuah dakwah Bergelut dalam hukum syari’at dan sunnah Diantara sejuta pemuda mulia Bukankah aku manusia yang alpa Saat pemuka kaum berada dalam garda terdepan Berjihad tegakkan panji kemenangan Ringkih hati mengadu kepada Ilahi Angkuh diri berpijak diatas bumi Tertutup noktah selimuti sanubari Lalai akan cela dan aib yang kian pasi Sujud khidmat temani raga berbalut dosa Isak tangis bercucur diatas sajadah cinta Tersungkur diri dalam hati yang gulita Berharap ampun dan Rahmat Sang Pencipta