Skip to main content

Menjadi Dilan di Era Millenial


Kabar tentang Dilan tengah memuncak pada anak-anak muda jaman now, kisah cinta remaja jaman dulu akhirnya kembali mengguncang dunia remaja dan pemuda masa kini. Hem, geli juga rasanya tatkala sebagian besar anak-anak muda jadi terkena virus merah jambu dan vitus BAPERR yang kerap kali diupload disosmed tentang cinta dan rindu mengenai kisah cinta Dilan. Padahal jika kita renungkan kisah cinta pemuda muslim dan wanita muslimah zaman dahulu tak kalah romantisnya. Yah, kita mulai kisah romantisme Rasulullah SAW dan Siti Khadijah yang dalam keimanan Allah menganugerahkan rasa cinta yang manis dan teduh, tanpa ada sedikitpun fitnah ataupun nafsu yang berselimut hingga berujung pada pernikahan yang sah dan halal menurut Syari’at agama. Hingga dalam pernikahan pun cinta sayyidah Khodijah terhadap Rasulullah SAW tak kurang sedikitpun bahkan justru semakin hari semakin bertambah lantaran keimanan yang senantiasa bersemi dan mekar dalam nuraninya. Hingga dalam masa-masa sulit Rasulullah berdakwah kepada kaum Quraisy tak sedikitpun cinta itu pudar ataupun goyah, Sayyidah khodijah justru menjadi penyemangat Rasulullah dikala Rasul tengah dirundung duka dalam menghadapi hinaan, cercaan bahkan kejahatan yang kerap kali dilakukan oleh kaum kafir Quraisy. Sayyidah khodijah senantiasa menampakkan senyum yang menghangatkan hati Rasul dan mendamaikan gelisah Rasul.
Kisah cinta Fatimah Az-Zahro dan Ali bin Abi Thalib ra, juga mengandung romantisme yang dahsyat. Dalam balutan iman mereka memendam perasaan dan menutup rapat hingga tak ada satupun makhluq Allah yang mengetahuinya melainkan Rabbnya. Bahkan ketika mereka sudah halal dalam sebuah ikatan pernikahan, romantisme keduanya tak pernah pudar meski kerap kali Allah uji dengan keadaan perekonomian yang semakin hari semakin terpuruk, hingga mereka rela tuk berpuasa lantaran tak ada sepotong roti pun tuk dimakan. Bahkan jika seandainya mereka memiliki makanan sementara ada tetangganya yang juga kelaparan, mereka lebih memilih untuk berpuasa dan membagikan makanan tersebut kepada tetangganya. Subhanallah,, keteguhan, keikhlasan dan kedermawanan keduanya merupakan romantisme sesungguhnya. Tatkala dunia telah menjauh namun keikhlasan tetap teguh tertancap dalam balutan iman dan ihsan yang kerap kali mekar dalam bilik-bilik keindahan kalbu. Yah, begitu;ah Rasulullah mengajarkan kepada putri terkasihnya tentang kezuhudan, keikhlasan dan keimanan yang seanantiasa tertancap dalam dada.
Namun sayang, justru pemuda masa kini sedikit sekali yang mengetahui kisah Rasul dan Para Sahabat terdahulu. Justru jika kita mengambil ibrah dari kisah orang-orang Shalih terdahulu ada banyak sekali pelajaran hidup yang bisa kita terapkan dalam menghadapi zaman sekarang agar hati tetap teguh berada dalam lingkaran tauhid-Nya dan jalan yang diridloi-Nya. Para remaja dan pemuda masa kini justru disibukkan dengan kisah-kisah romantisme dalam dunia novel dan drama yang ditayangkan dibeberapa bioskop, youtube dan hiburan rumahan seperti televisi.
Nah kembali kepada pembahasan awal, untuk menjadi Dilan masa kini memanglah tak mudah, sebab Didan-dilan yang sudah beredar dibeberapa buku dan film justru mengarah kepada keindahan cinta dalam lingkaran nikmat dunia semata, maksudnya hanya akan dirasakan sesaat namun miskin akan manfaat. Menjadi dilan masa kini bukanlah memilih jalan Pacaran dalam memuaskan nafsunya, namun memilih jalan Menghalalkan tuk meraih kebahagiaan yang hakiki, sebagaimana kisah cinta Fatimah dan Ali bin Abi Thalib ra. Yang mana keduanya lebih memilih diam sebelum Allah mentaqdirkan bersama. Mereka memilih menyimpan rapat-rapat perasaan itu dan memasrahkan sepenuhnya kepada Dzat Pemilik Cinta sebab tak ada yang sanggup menahannya selain Allah SWT yang memberikan kekuatan tuk menjaganya. Begitulah dilan masa kini. Dilan yang lebih memilih diam dalam perasaan yang berrselimut dan memantaskan diri menjadi Hamba yang lebih baik sebelum menghalalkannya. Sebab dalam syari’at islam tak ada kata pacaran sebelum nikah. Dilan masa kini haruslah lebih keren dari dilan jaman old, bukanlah pacaran sebelum nikah melainkan pacaran setelah menikah.
Menjadi dilan masa kini dengan keteguhan iman dalam hati, dan memantaskan diri sebelum akad terjadi, justru itulah romantisme terkeren yang mengalahkan pasangan Romeo dan Juliet dan pasangan kisah cinta Laila dan Qais. Menjadi Dilan yang mampu merundukkan hawa nafsu ditengah ombak yang melanda, Menjadi Dilan yang senantiasa merindu akan hadirnya kekasih namun rindu yang senantiasa diperuntukkan kepada Rabbnya, itulah keindahana dan romantisme cinta terindah. Dan Dilan masa kini haruslah menjadi Dilan yang sekuat super hero dalam menaklukkan nafsu bukanlah menjadi Dilan yang lemah akibat cinta yang menyapa. So, Dilan masa kini bukanlah Dilan yang meluapkan nafsu melainkan Dilan yang tetap kokoh mengendalikan nafsu.

Comments

Popular posts from this blog

MENGHAFAL AL-QUR’AN SEMUDAH TERSENYUM

Menghafal itu susah? Menghafal itu memerlukan waktu yang lama? Menghafal itu melelahkan? Itulah kata-kata yang sering mendesir diarea lubang telinga saya. Benarkah semua yang dikatakan kebanyakan orang-orang? Fakta atau opinikah? Sejenak, mari kita renungkan bersama mengenai kisah-kisah para penghafal Al-Qur’an yang luar biasa, kisah-kisah yang dapat menginspirasi kita semua sebagai Hamba & MakhluqNya yang lemah tanpa ada kekuatan dariNya. Dimulai dari kisah seorang pemuda buta yang gigih dan memiliki keyakinan serta tekad yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an, setiap hari ia dan ayah tercintanya datang kepada gurunya untuk setor meski hanya 1 ayat dengan jarak perjalanan yang lumayan jauh, namun semangat pemuda tersebut tak luntur hanya karena keterbatasan penglihatan dan jarak jauh yang ditempuhnya. Dan Anda tahu pemuda tersebut bisa menghatamkan Al-Qur’an. Ada lagi seorang wanita yang berjuang dalam meraih cita-citanya menghatamkan Al-Qur’an dalam sebuah kampus di daerah kudus. ...

KISAH PENJUAL TAHU

        Ada seorang penjual tahu. Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya.   Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah. Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dagangannya laris.   Begitulah setiap hari, sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis.            Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya utk naik angkot langganannya, entah kenapa tiba2 ia terpeleset kecemplung sawah.   Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung!         Setelah kejadian tersebut, ia mengeluh kepada Tuhan, bahkan "menyalahkan" Tuhan, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia selalu berdoa setiap pagi.   Akhirnya ia  segera kembali kerumah dan  tidak jadi berdagang.   ...

Munajat

  Diantara sejuta insan beriman Bukankah aku manusia yang cela? Saat imam tersungkur dalam manisnya iman Hempaskan rindu nan dahsyat kepada Sang Pencipta Diantara sejuta Hamba yang mulia Bukankah aku makhluq terhina? Saat Hakim sibuk terbarkan petuah dakwah Bergelut dalam hukum syari’at dan sunnah Diantara sejuta pemuda mulia Bukankah aku manusia yang alpa Saat pemuka kaum berada dalam garda terdepan Berjihad tegakkan panji kemenangan Ringkih hati mengadu kepada Ilahi Angkuh diri berpijak diatas bumi Tertutup noktah selimuti sanubari Lalai akan cela dan aib yang kian pasi Sujud khidmat temani raga berbalut dosa Isak tangis bercucur diatas sajadah cinta Tersungkur diri dalam hati yang gulita Berharap ampun dan Rahmat Sang Pencipta