Skip to main content

Muhasabah

  

  Dalam penyusuran langkah ini, semakin kaki melangkah jauh, Allah kembali hadirkan orang-orang hebat untuk buat diri ini semakin malu dan menyadarkan betapa kecil diri ini bahkan lebih kecil dari batu-batu kecil dan kerikil. Mungkin dari bawah gedung-gedung yang beratap dan berlantai puluhan menjulang begitu tinggi, berkelap kelip nan indah, rumah-rumah yang menetap dengan berbagai bentuk, ada yang sederhana, ada yang kecil tak bertepi, dan bahkan ada yang besar laksana istana puteri dan pangeran yang menetap didalamnya. Mobil-mobil yang lalu lalang, berjalan menyusuri trotoar hingga tol dan jalan raya dengan kesibukan masing-masing. Sibuk mengurus urusan pribadi. Disana ada mobil yang seharga puluhan juta, ratusan, milliyaran bahkan trilliyunan yang merupakan kebanggaan tersendiri bagi pemiliknya. Kita lanjut menuju sawah dan ladang yang begitu luas dan indah dipandang, dengan susana penghijauan yang segar dan menyejukkan, sawah berhektar-hektar yang mungkin itulah aset paling berharga bagi pemiliknya dan satu2nya aset yang dibangga-banggakan.
   Namun, tahukah sahabat, ketika kita menyusuri bumi dari ketinggian angkasa, semua yang berada dibumi hanya nampak kecil, kecil sekali seperti sampah yang berserakan dan usang. Gedung-gedung tinggi & rumah yang megah hanya nampak mainan kardus yang disusun anak2 TK, sawah dan ladang yang melintang laksana petak-petak yang digambar oleh anak TK, mobil yang lalu lalang dengan beragam harga tak terlihat, tertutup oleh gedung dan awan. Apalagi kita? Dimanakah posisi kita? Masihkah kesombongan akan berselimut dibalik tirai hati kita? Jabatan? Kecantikan? Masihkah kita sombongkan? Padahal ternyata ketika dari ketinggian kita tak terlihat, kita tak ubahnya sebuah krikil dan bahkan seperti butiran debu yang sama sekali tak nampak.
    Penyusuran langkah tak berhenti disana, ketika kaki melangkah dalam sebuah gedung tinggi dan luas bertuliskan "Rumah Sakit" ada berapa banyak disana manusia yang berjuang melawan penyakitnya? Di ruang ICU kita akan melihat betapa banyak manusia yang bergantung dengan mesin, suntik dan obat-obatan adalah lalapan setiap hari, setiap saat bahkan setiap jam. Di ruang IGD kita akan di suguhi pemandangan mereka yang berbondong-bondong mencari obat karena tak kuasa menahan sakit yang diderita, ada yang nafas terasa sesak, untuk bernafas saja memerlukan bantuan oksigen dari dokter, ada yang pinsan mata tertutup karena tak kuasa oleh sakit kepala yang menerpa dan bermacam-macam orang dengan penyakit yang beraneka ragam. Kita menuju Ruang Operasi, kita disuguhkan oleh pemandangan orang-orang yang pasrah antara hidup dan mati. Ruangan yang teramat sangat dingin dan mencekam dengan pemandangan aneka alat untuk membedah bagian tubuh pasien mana saja yang akan dibedah. Kita akan melihat betapa tubuh lemah tak berdaya, mata terpejam oleh bius yang masuk bersama aliran darah.
      Dan disamping ruang sana kita saksikan pemandangan keluarga yang tegang menantikan hasil dari operasi, akankah operasi menyelamatkan nyawanya, ataukah lantaran operasi akan merenggut nyawa dari dalam tubuhnya? Betapa dahsyat pemandangan yang mencekam yang dirasakan oleh keluarga terdekat dan orang-orang terkasih diruang sana. Kita lanjut menuju ruang tempat dimana kita akan mensyukuri betapa berharganya sebuah waktu dan hidup, ruang tempat dimana orang-orang pengidap kanker dengan beraneka ragam stadium. Mereka disuguhi oleh obat-obat kemo yang mungkin saja akan menghabiskan rambutnya dan energi dalam tubuhnya. Ruang dimana antara hidup dan mati mereka serahkan segalanya kepada sang Pencipta. Ruang dimana sisa waktu yang ada teramat sangat berharga untuk mengukir kisah indah bersama orang-orang terkasihnya. Sungguh betapa pemandangan tersebut akan menitikkan air mata kepada siapa saja yang menyaksikan. Hanya kekuatan yang mereka dapatkan dan kepasrahan akan hidup kepada Sang Maha Hidup.
   Dimanakah kita? Bukankah saat ini Kesehatan telah membersamai kita & canda tawa menemani kita? Bukankah detik ini keluarga masih utuh dengan kita dengan tempat tinggal yang indah dan nyaman? Namun keluh kesah kerap kali membasahi bibir kita hingga hidup tak berwarna jika tanpa adanya sebuah keluh kesah? Masih pantaskah kita untuk mengeluh dengan semua kondisi sahabat dan saudara kita yang saat ini ditimpa musibah yang dahsyat, namun mereka masih bisa tersenyum dan begitu kuat menghadapinya? Duhai jiwa yang saat ini mencari ketenangan, Duhai raga yang saat ini mulai melemah oleh setiap masalah, Duhai Hati yang Saat ini terpuruk oleh keadaan... Bangunlah Kalian, Bangkitlah, Masih ada secercah cahaya yang akan menyinari jiwa raga kalian. Akan ada pelangi yang mewarnai hari kalian. Bangunlah sebelum Allah kembali menidurkanmu yang sangat lama. Bangunlah sebelum semua hanyalah sebatas kisah yang akan tertulis dalam buku catatan amal kita. Bangunlah sebelum izra'il datang untuk membawa surat penjemputan dari Rabb-Nya.
      Hiasilah hari dengan syukur, munajat dan Keridhoan hati yang lapang. Nikmatilah hidup dengan penuh keikhlasan dan ukirlah sebuah catatan yang akan membawa kabar gembira tatkala ditempat kembali kelak dengan menebar manfaat untuk sesama. Semoga Allah merahmati kita semua. Aamiin

Salam Santun,
Bintun Nuqthoh

#MotivasiPagi
#MuhasabahDiri
#Challange8ODOP
#Day8
#OneDayOnePost

Comments

  1. aamiin.. kata-katanya bagus, jeda pake enternya ditambahin kak, biar enak dibaca
    #hanyasaran

    ReplyDelete
  2. Alhamdulillah.. terima kasih kak sudah berkenan mampir. Dan terima kasih juga untuk masukan dan sarannya. Semoga kedepannya bisa lebih baik 😊

    ReplyDelete
  3. Aamiin.... Terima kasih untuk tulisan muhasabahnya Kak, tetaplah menjadi bagian dari perubahan dunia nan lebih baik lagi.

    ReplyDelete
    Replies
    1. In syaallah semoga Allah senantiasa membimbingnya. Terima kasih kak sudah berkenan mampir 😊

      Delete

Post a Comment

Popular posts from this blog

MENGHAFAL AL-QUR’AN SEMUDAH TERSENYUM

Menghafal itu susah? Menghafal itu memerlukan waktu yang lama? Menghafal itu melelahkan? Itulah kata-kata yang sering mendesir diarea lubang telinga saya. Benarkah semua yang dikatakan kebanyakan orang-orang? Fakta atau opinikah? Sejenak, mari kita renungkan bersama mengenai kisah-kisah para penghafal Al-Qur’an yang luar biasa, kisah-kisah yang dapat menginspirasi kita semua sebagai Hamba & MakhluqNya yang lemah tanpa ada kekuatan dariNya. Dimulai dari kisah seorang pemuda buta yang gigih dan memiliki keyakinan serta tekad yang kuat dalam menghafal Al-Qur’an, setiap hari ia dan ayah tercintanya datang kepada gurunya untuk setor meski hanya 1 ayat dengan jarak perjalanan yang lumayan jauh, namun semangat pemuda tersebut tak luntur hanya karena keterbatasan penglihatan dan jarak jauh yang ditempuhnya. Dan Anda tahu pemuda tersebut bisa menghatamkan Al-Qur’an. Ada lagi seorang wanita yang berjuang dalam meraih cita-citanya menghatamkan Al-Qur’an dalam sebuah kampus di daerah kudus. ...

KISAH PENJUAL TAHU

        Ada seorang penjual tahu. Setiap hari ia menjual dagangannya ke pasar. Untuk sampai ke pasar, ia harus naik angkot langganannya.   Dan untuk sampai ke jalan raya, ia harus melewati pematang sawah. Setiap pagi ia selalu berdoa kepada Tuhan agar dagangannya laris.   Begitulah setiap hari, sebelum berangkat berdoa terlebih dahulu dan pulang sore hari. Dagangannya selalu laris manis.            Suatu hari, ketika ia melewati sawah menuju jalan raya utk naik angkot langganannya, entah kenapa tiba2 ia terpeleset kecemplung sawah.   Semua dagangannya jatuh ke sawah, hancur berantakan! Jangankan untung, modal pun buntung!         Setelah kejadian tersebut, ia mengeluh kepada Tuhan, bahkan "menyalahkan" Tuhan, mengapa ia diberi cobaan seperti ini? Padahal ia selalu berdoa setiap pagi.   Akhirnya ia  segera kembali kerumah dan  tidak jadi berdagang.   ...

Munajat

  Diantara sejuta insan beriman Bukankah aku manusia yang cela? Saat imam tersungkur dalam manisnya iman Hempaskan rindu nan dahsyat kepada Sang Pencipta Diantara sejuta Hamba yang mulia Bukankah aku makhluq terhina? Saat Hakim sibuk terbarkan petuah dakwah Bergelut dalam hukum syari’at dan sunnah Diantara sejuta pemuda mulia Bukankah aku manusia yang alpa Saat pemuka kaum berada dalam garda terdepan Berjihad tegakkan panji kemenangan Ringkih hati mengadu kepada Ilahi Angkuh diri berpijak diatas bumi Tertutup noktah selimuti sanubari Lalai akan cela dan aib yang kian pasi Sujud khidmat temani raga berbalut dosa Isak tangis bercucur diatas sajadah cinta Tersungkur diri dalam hati yang gulita Berharap ampun dan Rahmat Sang Pencipta